Senin, 30 Juni 2025

Moderasi Beragama dalam Debat Pemilu Kada Di Provinsi Sulawesi Barat

 

Esensi dari debat adalah memberikan opsi yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk menilai program dari paslon mana yang benar-benar berpihak kepada mereka. Sehingga dari situlah mereka menentukan pilihan politiknya.

Tahapan demi tahapan proses pemilu kada telah terlaksana. Mulai dari pendaftaran calon kepala daerah, pemilihan nomor, deklarasi hingga sampai pada debat kandidat yang sangat menyita perhatian publik Sulawesi Barat.

Berbagai isu-isu penting pun tereksplorasi secara koheren. Mulai dari isu Birokrasi, isu Pendidikan, isu Kesehatan, isu Pengelolaan SDM dan SDA, serta isu lainnya. Semuanya dibahas dengan cukup baik oleh para kandidat. Tujuannya adalah untuk menarik minat para konstituen melabuhkan pilihannya.

Anak Lahir Luar Nikah, Hukum Negara dan Hukum Islam

Semenjak dunia teknologi memasuki masa transisi dengan hadirnya Revolusi Industri 4.0 dan saat ini menuju 5.0 sangat berdampak signifikan terhadap perilaku perilaku sosial masyarakat. 

Dampak sosial yang dilahirkan begitu besar terutama dalam struktur sosial seperti terjadinya urbanisasi yang begitu massif.

Pergerakan masyarkat pedesaan menuju perkotaan begitu signifikan sehingga menciptakan pusat-pusat urban baru yang ramai dan dinamis. Sehingga dari hal tersebut pertukaran kebudayaan pun terjadi.

Bulan Muharram: Misi Kemanusiaan dalam Persatuan dan Perdamaian

Ada momen-momen dalam hidup yang membuat kita terdiam, merenung, bahkan menitikkan air mata tanpa suara. Bulan Muharram adalah salah satunya. Ia datang setiap tahun bukan hanya membawa angka baru dalam kalender hijriah, tetapi juga mengetuk hati, menyentuh nurani, dan mengajak kita untuk kembali pada nilai-nilai kemanusiaan yang sering terlupakan di tengah hiruk-pikuk dunia.

Setiap kali Muharram datang, hati umat Islam seolah disapa oleh waktu yang penuh makna. Ini bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender hijriyah, tetapi momentum suci yang mengetuk kesadaran kita akan sejarah, kemanusiaan, dan cinta pada perdamaian. Muharram adalah bulan yang penuh haru, penuh pelajaran, dan penuh ajakan untuk memperbaiki dunia dengan kasih, bukan dengan kebencian. 

Menyikapi Kontestasi Pesta Demokrasi Yang Penuh Dengan Intrik Dan Gimik dengan Kaca Mata Moderasi

Kurang lebih dua pekan kedepan masyarakat akan di hadapkan pada sebuah kondisi dimana mereka wajib memilih sosok yang akan memimpin mereka 5 tahun kedepan. Sosok yang akan memperjuangkan kesejahteraan mereka.

Kalau kita coba untuk mundur beberapa bulan ke belakang. Debat para calon pemimpin yang telah diselenggaran selama kurang lebih 4 kali. Setidaknya bisa menejadi pertimbangan bagi masyarakat untuk menentukan pilihan.

Selama perdebatan, bukan hanya debat calon pemimpin yang menyita perhatian melainkan debat para pendukung di balik gelanggang juga sangat sengit. Masing-masing mencari penguat argumentasi untuk menjelaskan gimik dan intrik yang dibuat oleh masing-masing pasangan.

Dan lebih jauh lagi. Debat merambah ke media sosial hingga group-group WhatsApp. Debat di media sosial pun tak kalah sengitnya bahkan saking sengitnya debat di media sosial khususnya di platform X (Twitter) pertarungan narasi sangat cepat terbangun. Bertebaran potongan video, meme dsb yang tak sedikit mengandung unsur Disinformasi dst.

Menangisnya Bumi: Menelisik Dampak Tambang terhadap Lingkungan dalam Perspektif Agama

Tidak ada yang lebih sunyi daripada rintihan bumi yang terluka. Ia tidak bersuara, tidak menangis, dan tidak melawan. Tapi dari pori-pori tanah yang merekah, dari sungai yang menghitam, dari udara yang semakin sesak, kita tahu: ‘ada yang tak lagi baik-baik saja dengan rumah kita bersama ini.’

Kita hidup di negeri yang dilimpahi karunia—hutan tropis yang luas, air yang mengalir deras dari pegunungan, tanah yang subur, dan perut bumi yang menyimpan kekayaan mineral tak terhingga. Tapi sayangnya, karunia ini kerap dikelola dengan keserakahan, bukan kebijaksanaan. Pertambangan, yang sejatinya bisa menjadi anugerah dan penopang ekonomi bangsa, sering kali justru menjelma menjadi sumber petaka yang mengoyak kehidupan sosial, menghancurkan keseimbangan ekologis, dan merusak martabat kemanusiaan.